Sabtu, 05 Mei 2012

Rohis SMAGA AE



Perpisahan saya dan orang tua, menjadi babak baru dalam kehidupan saya. saya dituntut kuat, berani, dan bisa mengambil keputusan sendiri.

Dan luar biasa, Allah memberikan saya anugrah yang besar. Saya dikumpulkan dengan teman-teman keren ilmu dan agamanya.

Awalnya HPK hanya diisi oleh saya dan Jajuk, teman yg ibu saya dan saya paksa untuk nemenin saya.. :D
Lalu bertambah Shelvy, Pinky, Kyky, Tika, dan Laili. Tika dan Laili ini kosnya depan kos saya, dan kami sering main bareng. :D

Jiwa prestatif saya bangkit dan saya kembali pada agenda-agenda keislaman. Ikut tafakkur alam, ikut liqo, dan diskusi-diskusi.
Murabbi saya pertama alumnus SMA 3, mbaknya super gaull, sampai akhirnya menikah, murabbi kami diganti yang kedua. Murabbi kedua alumnus SMA 2 dan sampai menikah lagi, akhirnya sampai pada murabbi ketiga. Yang ketiga ini luar biasa, ibunya seorang dokter, ketua LSM Woman Centre Madiun juga. Dan Ibunya luar biasa supel dan tangguh. Kami liqo harus keluar dari SMA, karena SMA saya memang tidak diijinkan orang luar hadir kesana.
Tapi kami sempat mengadakan liqo di Mushola SMA 3 yang baru. :)
Selain itu, ibunya juga kadang main ke kontrakan kami. Kadang juga kami disuruh ke kantor ibunya. Dan kami lakukan dengan senang hati. Bersama ibu itu, saya merasa bahwa saya sangat disayangi, dan saya punya orang tua yang akan membimbing saya (maklum waktu itu sangat jauh dari ortu).
Bu Ainun pernah suatu pagi, jam 5, bertamu dikontrakan saya. Kami ngobrol berdua, panjang lebar kali tinggi. Ibunya menganggap saya sebagai teman saat itu. Dan perhatiannya membuat saya luluh.. Belum pernah saya menemukan orang setulus beliau. Beliau menceritakan kehidupan keluarganya, mulai dari sebelum menikah, lamaran, pacaran setelah menikah, dan sampai sekarang. Begitu pun, ketika Bu Ainun sakit, kami ke toko tanaman membelikan ibunya bunga. Rasanya so sweet banget. :)

Pernah, gara2 kesalahan kami dalam mengurus surat, Murabbi saya ini dipanggil oleh wakasek.. :D ampunnn.. Ibunya nggak marah blas, malah minta maaf ke kami.. :)

Awal mulanya adalah ketika dalam perkumpulan rohis sma-sma, kami pun ngiri dengan SMA 2, yang sudah bisa ngadain mabit di sekolahnya. Kami pun juga mengajukan agenda tersebut untuk mengadakan isra' mi'raj dengan metode mabit. Namun proposal ini ditolak, dan kami tetap ngenyel melakukan perbaikan, soale wakaseknya nggak to the point bilang kalau menolak, bilangnya alasan pematerilah, alasan waktu, dll..

Agenda ditolak mentah dan kami dikumpulkan di mushola.. Luar biasa mengerikan sekaligus menyebalkan dari guru saya waktu itu. Bilang kalau hati-hati dengan orang luar, sekarang banyak anak dicuci otak dan diajak berjihad jadi teroris. Dll.. dan rasanya saya sangat benci dengan hal tersebut.. Berpikirnya terlalu jauh dan tendensius.

Proposal selanjutnya adalah kegiatan pengajian rutin. :D
ya, kami sangat ingin kegiatan pengajian ini legal dan juga terbuka untuk umum, bukan cuma kami yang merasakan tapi yang lain juga. karena kami telah merasakan betapa hebat efeknya.
Inilah awal mula murabbi saya dipanggil kepsek.. :D (Maaf Buu..)
Ceritanya, kami buta akan hal-hal proposal. Karena itu, saya dan teman saya meminjam proposal dari OSIS. Kami nekat juga, kop surat lembaga Ibunya kami scan dan kami jadikan kop proposal kami. Nah, gebleknya, dalam proposal tsb ada tanda tangan Ibunya, lembaganya, dan juga kepsek + NIP-nya... Hahaha.. Jelas lah, guru pun bertanya-tanya, kok bisa orang ini tau nomornya Pak Kepsek. Mereka menanyakan pada kami, dan kami jawab apa adanya.. :)
Murabbi saya pun dipanggil, dan beliau menghadap. untungnya kok ternyata temennya MR ini dan kepsek pernah kenal. :D
Walau pernah kenal, itu bukan berita baik, karenaaa.... tetap saja, pengajian dilarang.

Hmm.. SMAGA, gimana nasibmu sekarang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar