Jumat, 04 Mei 2012

Ceroboh yang Memakan Korban


SESI I


Hari sabtu adalah hari olahraga di SMA 3 Madiun. Biasanya setelah olahraga sesuai dengan bidang minat masing-masing, temen-temen cewek CIS kongkow di markas (kebetulan itu kos-kosan saya, namanya HPK).
Apalagi yang dilakukan oleh remaja putri yang lagi ngumpul kalau nggak ngobrol.. Haha..

Hari itu (x) terhitung sebagai musim kemarau.
Notasi matematikanya adalah {X|x1, x2,... xj}. :D
Madiun itu, kalau sedang kemarau, panasnya lebih menyengat daripada Surabaya. #serius.
Karena inilah, topik kami adalah tentang panasnya Madiun. Masing-masing menceritakan tentang pengalamannya dalam mengatasi panasnya ini. Hmm.. saya lupa saya bercerita tentang apa. Yang saya ingat pasti adalah cerita dari Arda. :) Ceritanya menginspirasi dan bisa dijadikan solusi untuk mengatasi kondisi saya dan kamar saya.. :) Murah, meriah, mudah.

Arda menceritakan tentang, bagaimana Ibunya menangani panasnya rumah. Yaitu, dengan meletakkan ember berisi air di salah satu sudut ruangan yang diinginkan. Dengan didukung oleh landasan teori penguapan yang kuat, maka solusi ini dapat diterima.

Oke..
Karena sudah waktunya saya harus ke rumah Budhe, maka kami berpamitan.
(setiap sabtu-minggu adalah waktunya pulang kampung, karena saya nggak mungkin ke rumah ortu yang ada di Kalimantan, maka saya ke rumah Budhe saya).

SESI II
Ting-tong..
Hari minggu sore..

"Assalammualaikum, Bu Timbul, saya sampai." 
Bu Timbul adalah Ibu Kos saya yang super baik.
Saya memasuki kamar dan merasakan panas yang menyengat. Kebetulan kamar saya menghadap timur.
Dan saya teringat solusi yang diceritakan Arda, maka saya mencoba mengimplementasikannya.

Saya mencari ember.
Hmm.. ember ini terlalu besar dan sepertinya memperburuk estetika kamar kami jika ini diletakkan di kamar.
Maka solusi lain adalah, saya mengambil Teko. Alasan logisnya adalah, teko itu kecil dan jika diletakkan di kamar, ia tidak akan mengurangi estetika ruangan.
Dan ide inilah yang menyebabkan jatuhnya korban.. :D

SESI III
Senin pagi, saya mengamati teko ini. Dalam hati berkata, "Subhanallah yah, Madiun emang panas banget, sampai-sampai di kamar ini terjadi penguapan."
Air dalam teko itu berkurang sebanyak kurang/lebih 1 cm.

Lalu saya ke Sekolah bersama teman-teman HPK yang lain.

Sehabis dari sekolah, saya mengamati teko itu lagi. Dan berkomentar yg sama dengan komentar tadi pagi. Namun ada satu hal yang mengganjal, kenapa ada gelas disana?
Saya pun masih berpegang teguh pada teori penguapan.

SESI IV
Tiba malamnya, kos saya penuh dengan para cewek2 CIS yang keren-keren. :)
Sampai suatu ketika, tibalah keinginan saya memasuki kamar. Dan betapa saya terkejut, ketika air di dalam teko itu hanya berisi setengah dan di sampingnya ada banyak gelas. Antara takut dan ingin mengakui kesalahan dan meminta maaf, saya menghampiri teman2 saya yg sedang berkumpul di luar.

Dan berkata, "Cah, tadi minum di air di teko di kamarku?" (ekspresi saya menimbulkan kecurigaan terhadap saya). Mereka menjawab, "Iya, lapo mbah??" ("mbah" adalah panggilan saya dulu).
Saya langsung lari, sambil cekikik'an.. :D:D:D
Temen2 yang merasa minumpun juga penasaran, akhirnya mengejar saya, dan saya tersudutkan oleh intrograsi2 yang mengintimidasi tapi saya cuma bisa ketawa pasrah.

Sampai saya sudah tenang, saya beri tahu, zat apa sebenarnya yang ada dalam teko tersebut. Hehe..
"Cah, itu air mentah,, maaf yaa.. ini karena saya dapat saran dari Arda".
Waaahhhhhhhh... Saya dicekek sama anak2 waktu itu.. :D
Dan mereka sewot, "kenapa tempatnya pakai teko??", "air keran atau air di bak?", "Mbahe kudu tanggung jawab kalau aq sakit perut", dll..
:D

Hehe.. Maafkan aku teman2..
Tapi cerita ini, selalu saya ajukan sebagai cerita lucu yang saya punya..

CIS - We Life Education, Inovation, Revolution, & Development

Tidak ada komentar:

Posting Komentar