berikut saya kutip dari kapanlagi.com
Aku mungkin bukan pujanggaAku mungkin tak selalu adaIni diriku apa adanya
(repeated)Mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata'Ku tak s'lalu kirimkan bunga 'tuk ungkapkan hatiku
Oh...Mungkin aku tak 'kan pernah memberi intan permataMungkin aku tak selalu ada di dekatmuKuingin kau tahu isi di hatiku'Ku tak akan lelah jaga hati iniHingga dunia tak bermentari
(Chorus)Satu yang kupinta, yakini dirimu, hati ini milikmuSemua yang kulakukan untukmu lebih dari sebuahKata cinta untukmu, ini diriku
Hari ini saya menyesal karena telah mengambil makna Pujangga yang didefinisikan oleh BaseJam sehingga saya menjadi benci dengan Pujangga yang identik dengan pandai menggombal untuk merebut hati Targetnya.
Tulisan Natsir dalam Capita Selecta-nya telah mampu memberikan kejernihan berpikir saya tentang bagaimana Pujangga itu sebenarnya..
Bahwa pujangga adalah mereka yang mengikat ilmu-Nya dengan Kalam dan menyusun setiap katanya dengan Sastra yang tinggi.
Sastranya itu menenggelamkan pembacanya dalam lautan-lautan ilmu cermelang yang dikaruniakan Allah SWT.
Bahwa Pujangga adalah identitas yang wajib melekat pada ulama-ulama sekaliber Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Imam Ghazali, dan lain-lain.. Ya, mereka Pujangga.
Jadilah Pujangga..
Walau tak bisa melekat pada diri saya, setidaknya pada Anda yang telah berkemampuan, tingkatkanlah. Dan setidaknya tidak mampu untuk kita, mari kita perjuangkan untuk anak/cucu kita.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar